Zainal Abidin, Kepala Dinas Disperindag Jawa Timur dari Sumenep

12/30/2008

LINGKUNGAN badan dan instansi di Pemerintah Provinsi Jawa Timur sejak lama sudah banyak diisi oleh warga asal Madura. Mereka juga dikenal ulet dan konsekwen di bidang pekerjaan yang menuntut tenaga dan pikiran untuk memajukan provinsi yang di dalamnya termasuk tanah kelahirannya. Tak heran, di antara mereka selalu fokus pada perkembangan Madura. Ini bukti bahwa di mana pun warga Madura berada, tenaga dan pikirannya masih tercurah untuk Pulau Garam.

Zainal Abidin adalah salah satunya. Pertama koran ini menemuinya di kantor Bappeda Provinsi Jatim. Saat itu dia masih menjabat sebagai wakil ketua di instansi tersebut. Ketika itu dia masih sangat sibuk dengan aktivitasnya sebagai wakil ketua. Sehingga perlu membuat janji ulang untuk mewawancarainya.

Pria kelahiran Sumenep, 22 Agustus 1954 ini bertempat tinggal di Jalan Asem I/12, kawasan Asem Rowo, Surabaya. Dia akhirnya bersedia diwawancarai di hari libur setelah sekian lama menundanya.

Di kompleks perumahan tersebut, rumah Zainal-sapaannya-terlihat tak begitu menyolok dibanding kediaman warga lainnya. Yang sedikit berbeda ketika masuk di ruang tamunya. Interaksi menggunakan bahasa Madura ada di rumah itu. Terdengar, di dalam rumah Zainal meminta agar seseorang menyediakan minuman dan suguhan untuk koran ini dengan bahasa Madura. Tak diragukan lagi, dia adalah warga Madura.

Berpakaian rapi hitam-hitam, dia menyapa koran ini dengan ramah. Bapak 3 anak ini memang dikenal ramah, baik di lingkungan kerjanya maupun bagi warga sekitar rumahnya. Dijelaskan, dia datang ke Surabaya sejak tahun 1975, ketika melanjutkan studi teknik kimia di ITS.

"Jadi sejak kecil hingga SMA saya di Sumenep. Rumah saya kebetulan di tengah Kota Sumenep, Jalan Seludang," ujarnya.

Kini, lanjutnya, di rumah induknya tersebut masih tinggal orangtua perempuannya, Hj Zahra. Ayahnya, HM. Saleh sudah mangkat beberapa tahun lalu. Karena itulah dia masih sering mengunjungi tanah kelahirannya tersebut minimal 3 bulan sekali.

Diungkapkan, setiap kali harus pulang ke Madura, yang pertama ada dipikirannya adalah waktu perjalanan menuju Sumenep. Jika tidak antre di pelabuhan untuk menyeberang, dia menghabiskan waktu selama 6 jam di perjalanan. Saat pelabuhan ramai, tentu membutuhkan waktu lebih lama. "Istri saya orang Makassar. Nah, ke sana saya hanya butuh waktu cukup 1 jam saja. Ini yang tidak pernah berubah dari Madura," sesalnya.

Menurut dia, perjalanan dengan waktu lama dan didukung kondisi jalan yang sempit hingga saat ini merupakan faktor belum berkembangnya Madura. Dia tahu sendiri betapa orang lain selalu memikirkan lama dan jauhnya Madura setiap mereka harus datang ke sana. "Begini, kalau sudah dengar Madura, orang akan berpikir lama dan jauhnya menyeberang selat. Ini kan tidak bagus," tegasnya.

Tapi, lanjutnya, dia bisa sedikit tenang karena Jembatan Suramadu sebentar lagi akan rampung dibangun. "Sekarang tinggal bagaimana meningkatkan fungsi dan optimalisasi jalan-jalan akses di Madura. Saya berharap, misalnya ke Sumenep tidak makan waktu 6 jam lagi," tuturnya.

Ditanya mengenai perubahan di kampung halamannya, dia mengatakan memang ada beberapa hal cukup berubah. Yaitu, rasa kekeluargaan warga Madura yang kian menipis karena perkembangan zaman. "Mungkin karena sekarang era komunikasi pakai telepon genggam, dengan mendengar suara saja sudah cukup. Tapi, kan bertemu secara langsung tetap lebih baik," ulasnya.

Bagi suami Hj Ernawati ini, silaturahmi adalah roh warga Madura. Karena itu dia mengimbau supaya roh kemaduraan tersebut jangan sampai hilang ditelan kemajuan. "Supaya tidak hilang komunikasi, saya dan teman-teman SMA membuat semacam ikatan. Minimal setahun sekali saya mengajak pertemuan dengan mereka. Bahkan, di setiap hajatan pun kita masih saling undang," ujar pria yang tanggal 5 Januari ini akan menempati kantor baru sebagai Kepala Dinas Disperindag Jawa Timur. (ed)

dikutip dari http://jawapos.co.id/

Tulisan Terkait Lainnya



0 komentar:

Posting Komentar

 
 
 
 
Copyright © Sumenep Blog| by Susi Support