Pesantren Pasca-Suramadu

10/09/2008

(Refleksi Kekhawatiran)

M. Ridwan*

MEMBINCANG pesantren tidak akan pernah lepas dari peran seorang kiai dan santri. Mereka adalah 'suami-istri' yang setia sampai mati. Bahkan sampai hidup lagi. Tanpa keduanya, pesantren tidak akan pernah ada.


Kiai merupakan ujung pangkal dari gerak vertikal dan harisontal berdirinya dan langgeng tidaknya pesantren berada pada terpaan arus modernitas yang semakin runyam dan sinting. Jika suatu ketika kiai sudah tidak mempunyai power, maka yang akan terjadi ghirah santri juga akan naik-turun. Hal yang seperti itu akan mengakibatkan pudarnya pesona pesantren sendiri. Apalagi dewasa ini kiai sudah mulai cawe-cawe pada dunia politik yang notabene bukan dunianya dan bukan ahlinya. Kiai dalam pesantren akhir-akhir ini sudah mulai melepas atribut 'kiai'-nya dan menggantinya dengan atribut politik yang orientasinya kepada parlementaria, dan merupakan budaya yang tengah ditengarai rame-rame sebagai aji mumpung akhir-akhir ini.

Lalu, pertanyaan yang terus menggumpal di benak masyarakat, para santri itu mau dibagaimanakan? Siapa yang akan merawat dan mengasuhnya? Sudah cukupkah para asatidz yang akan manjadi khodim sementara menggantikan posisi sang kiai? Cukupkah ilmunya? Padahal para asatidz masih juga sebatas mondok, sebatas mengabdi yang statusnya sebagai mahasantri. Ini kian hari menjadi polemik berkepanjangan yang akan membengkak jika terus dibiarkan, tentunya pada moralitas santri itu sendiri.

Dewasa ini banyak pesantren sudah kehilangan jati dirinya sebagai wadah penggembleng, mendidik dengan keilmuan ilahianya. Itu karena sang kiai sudah 'melupakan' pesantrennya sebagai tempat tinggalnya. Jika dikonfirmasi, alih-alih punya tangung jawab kebangsaan dan keumatan. Dengan mengorbankan generasi muda seperati itu? Santrinya sendiri? Lalu apa yang akan terjadi jika realitas seperti ini terus dibiarkan?

Hal ini penulis kira akan menggerus semangat para santri untuk eksis menempa ilmu pada sebuah institusi pesantren yang akan berdampak pada kejiwaan dan masa depannya. Siapa yang salah? Tidak perlu mencari kambing hitam yang sudah hitam.

Tulisan ini lahir atas nama kekhawatiran yang kian hari menggumpal dan berkecambah. Terkait juga dengan pembangunan Jembatan Suramadu yang hampir selesai. Yang informasinya pertengahan 2009 sudah harus selesai dan bisa dipakai sesuai harapan. Pascaselesainya pembangunan Suramadu, semua industri -baik disengaja atau pun tidak, akan masuk secara deras tanpa bisa dibendung. Arus industri akan cepat menggilas kondisi sosial budaya yang ada di Madura. Semuanya akan tersulap seperti mengubah huruf-huruf kaligrafi menjadi lebih indah dan menjadi lebih menarik dari oposan luar. Entahlah kalau diseret ke dalam, apakah di penuhi tebing curam yang mengalir darah perih pada setiap sendi dan nadi keberlangsungan hidup masyarakat Madura atau bahkan lebih parah. Kenyataan pahit sebentar lagi akan membentang panjang jika kita terus menerus tidak peka melihat realitas yang sedang berlangsung dan memberikan ruas warna berbeda pada pra-pembangunan Jembatan Suramadu.

Akan menjadi kenyataan pahit yang akan menyerbu realitas peradaban dan kebudayaan yang ada di Madura jika beberapa hal di atas dibiarkan tanpa ada satu pihak yang menyikapi secara serius dan sungguh-sungguh dengan niat yang dilahirkan dari kedalaman nuraninya yang paling dalam.

Maka menjadi satu hal yang niscaya jika pada akhirnya Sumenep (baca: Madura) menjadi kota metropolis yang gagah perkasa dengan dinamika kehidupannya. Tetapi di dalamnya akan kering budaya kultur sekaligus pesona sosial yang ada di Madura pudar tiba-tiba tanpa ada yang merasa eman. Penulis sendiri tidak ikhlas dan kurang sepakat jika dengan diisukannya, ya, semoga hanya benar-benar menjadi isu sinting belaka, bahwa setelah Suramadu rampung, Sumenep, konon akan disulap menjadi kota Pariwisata kedua setelah Bali. Realitas ini benar-benar ngesel pada hati khalayak yang sebagian besar tidak sepakat dengan hal tersebut. Apa kata dunia jika kota santri tiba-tiba berubah menjadi kota maha indah yang digandrungi oleh turis-turis lokal dan mancanegara. Kemudian membawa kebudayaan mereka yang lambat laun akan memengaruhi pola sikap dan etika yang telah menjadi ciri khas orang Madura. Sekali lagi, apa kata dunia?

Maka, ada beberapa hal yang akan penulis tawarkan ke sidang pembaca. Pertama, kiai harus kembali kepada kodratnya. Kiai harus ikhlas hengkang dari kursi politik yang licik. Harus membangun kembali semangat juang yang tinggi dalam ngemong para santri dan masyarakat sekitar terkait merosotnya moralitas bangsa yang sudah berada di titik nadir. Idealisme seorang kiai harus suci dan tidak boleh tergadaikan oleh kepentingan sesaat, apalagi diri sendiri.

Kedua, menghidupkan tradisi lama di pesantren. Termasuk memeriahkan kembali pola pengajaran kitab-kitab klasik atau yang lebih dikenal sebagai kitab kuning. Karena pembelajaran kitabiah di pesantren dewasa ini sudah ambruk dibanding tahun-tahun silam. Penulis yakin, dengan menghidupkan tradisi lama tersebut, ruh pesantren akan bersinar terang sepanjang zaman tanpa ada rasa bimbang terhadap arus globalisasi yang tak memiliki ruang kasihan terhadap sebagian kecil yang tak memiliki kaidah khusus sebagai wadah yang rapuh dalam mengemban dan menerima tantangan hidup. Ketiga, memberikan ruang gerak terhadap kreativitas para santri untuk mengembangkan bakat dan minat masing-masing tanpa ada unsur paksaan yang menindas yang ujung-ujungnya akan menghilangkan ghirah belajarnya yang tinggi.

Keempat, ini adalah yang terakhir, tentunya dengan melihat kondisi sosial dan realitas yang sedang berlangsung. Artinya, pesantren jangan sampai memisahkan diri dari perkembangan ilmu teknologi yang semakin canggih. Sebab disadari atau tidak, dengan pesatnya iptek jika kita tidak menyiasatinya akan terus dijadikan bulan-bulanan dari pesatnya perkembangan gelombang modernisasi. Setidaknya kita harus menyeimbangkan jika tidak mampu mengungguli. Lebih spesifik lagi, antara IPTEK dan IMTAQ harus beriringan, berbanding lurus, tanpa ada yang mendahului semata-mata menjadi parameter bersama agar ikatan tali kasih keduanya dapat kita rampungkan dalam ikatan kesetiaan sehidup semati. Keduanya layaknya 'suami-istri' yang harus setia sampai mati. Mari bersama-sama perbaiki moral bangsa. Yakin Usaha Sampai. Wallahua'lam Bisshawab.

Dikutip dari http://www.Jawapos.co.id

Tulisan Terkait Lainnya



1 komentar:

Arza mengatakan...

Bangkitlah Pesantren... Perkuat terus dengan intropeksi, evaluasi dan pembenahan disegala bidang yang tetap mempertahankan ciri kesalafian. Amiiin. Kunjungi http://hadjitas.wordpress.com

Posting Komentar

 
 
 
 
Copyright © Sumenep Blog| by Susi Support